Bogor,DBestNews.Com
Hujan deras yang mengguyur Pintu 1 Istana Bogor, Jumat (1/5/2026), tak mampu meredam gelombang aksi mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor tetap bertahan, basah kuyup namun tak bergeser. Bagi mereka, ini bukan seremoni melainkan tekanan terbuka terhadap negara.
Di bawah komando Koordinator Lapangan, M. Alfadly Ridwan, massa bergerak solid tanpa atribut berlebihan. Hanya suara yang disatukan, tuntutan yang ditegaskan, serta sikap yang tidak lagi kompromi. Guyuran hujan justru menjadi saksi bahwa tekanan tidak akan surut.
Dalam orasinya, Alfadly menyampaikan peringatan keras di tengah hujan yang tak kunjung reda.
“Hujan bukan alasan untuk mundur. Ini bukti kami tetap berdiri saat rakyat terus ditekan. Jika negara memilih diam, maka suara kami akan jauh lebih keras dari hari ini,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Menurutnya, aturan tidak boleh dijadikan tameng untuk melahirkan kebijakan yang semakin menjauhkan masyarakat dari keadilan dan kesejahteraan.
Aksi mencapai titik puncak saat empat mahasiswa rebahan di atas aspal, diam di tengah hujan. Bunga ditaburkan perlahan di atas tubuh mereka, menghadirkan visual hening yang kuat dan menekan.
Empat tubuh tersebut menjadi simbol kondisi yang dinilai tengah dihadapi masyarakat buruh yang terus ditekan, pendidikan yang terabaikan, kesejahteraan yang dijauhkan, serta keadilan yang dilumpuhkan.
Tanpa tulisan dan tanpa properti tambahan, teatrikal itu justru tampil lebih kuat. Hanya tubuh yang terbaring, bunga yang jatuh satu per satu, dan keheningan beberapa detik yang kemudian pecah oleh teriakan massa.
Mahasiswa menuntut jaminan keamanan kerja dan kelayakan jam kerja serta penghapusan praktik ketenagakerjaan yang merugikan buruh, mendesak perombakan total Undang-Undang Cipta Kerja, menjamin kebebasan serikat buruh, serta mendorong peningkatan kesejahteraan dan upah layak bagi pendidik. Mereka juga menuntut perbaikan kurikulum, evaluasi kebijakan efisiensi anggaran pendidikan, serta pemenuhan hak pendidikan yang adil dan merata sebagaimana amanat UUD 1945.
Selain itu, mahasiswa mendesak pemerintah mengembalikan arah kebijakan kepada kepentingan rakyat, membuka ruang keterlibatan publik dalam proses pengambilan keputusan, serta melakukan evaluasi terbuka terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.
Massa menegaskan, hujan boleh turun, namun tekanan tidak akan surut. Aksi ini bukan penutup, melainkan awal dari gelombang yang lebih besar apabila tuntutan terus diabaikan.
Jika suara terus diacuhkan, tekanan dipastikan akan meningkat. Jika keadilan terus dipinggirkan, maka perlawanan akan terus dimajukan.
Hari ini mereka berdiri di bawah hujan.
Besok, mereka menyatakan siap kembali dengan kekuatan yang lebih besar demi memastikan suara rakyat benar-benar didengar.( S/Redaksi)
